RSS

Orang-Orang Di bawah Naungan Arsy

24 Sep

عن أبي هريرة :ان رسول الله صلى الله عليه و سلم قال:”سبعة يظلهم الله يوم لا ظل إلا ظله :إمام عادل, وشاب نشأ بعبادة الله , ورجل كان قلبه معلقا بالمساجد إذا خرج منه حتى يعود إليه, ورجلان تحبا في الله فاجتمع على ذلك و تفرقا, ورجل ذكر الله خاليا ففاضت عيناه, ورجل دعته ذات حسب و جمال فقال إني أخاف الله عز و جل, ورجل تصدق بصدقة فأخفاها حت لا تعلم شماله مل تنفق يمينه”.(رواه بخاري و الترميذي)

Dari Abu Huroiroh : Sesungguhnya Rosululloh bersabda:”Tujuh golongan yang akan dinaungi oleh Alloh pada hari dimana tidak ada naunagn selain nauanganNya.Imam yang adil, Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Alloh, Orang yang hatinya terpaut dengan masjid ketika ia keluar hingga kembali lagi, Dua orang yang saling mencintai karena Alloh bertemu dan berpisah karenaNya, orang yang berdzikir kepada Alloh lalu meneteskan air mata , seorang lelaki yang di ajak berzina oleh wanita cantik lagi berkedudukan tapi berkata “Aku takut kepada Alloh”, dan orang yang bersedekah lalu menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disdekahkan oleh tangan kanan”. HR.Bukhori dan Tirmidzi)

Keterangan hadits.
Kata ( ظل) dzill berarti naungan atau bayangan.Beberapa ulama’ memberikan pengertian yang berbeda. Ada yang berpendapat Dzill berarti karomah dan penjagaan, karena dari sisi makna lughowi kata dzill berarti juga karomah atau kemuliaan.Ada juga pendapat yang mengatakan dzill berarti dzillul Jannah( naungan sorga )atau dzillu Thuba ( naungan telaga Tuba ).Ibnu Mubarok berpendapat bahwa dzill atau naungan pada hadits ini berarti Naungan Arsy.sebagaimana disebutkan dalam hadits :

سبعة يظلهم الله في ظل عرشه (رواه …….)

Hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori dan Turmudzi tersebut menerangkan kepada kita akan kemuliaan sifat yang ada pada tujuh golongan diatas.Mereka akan mendapatkan naungan pada hari dimana tidak ada naungan selain nauanganNya yaitu pada hari dimana matahari didekatkan diatas kepala hingga berjarak hanya satu jengkal, pada hari dimana manusia dikumpulkan dipadang mahsyar dalam kondisi tidak terlindungi apapun .tujuh golongn ini adalah

1. Seorang Imam Yang Adil.

Ibnu Hajar berkata : “Yang dimaksud disini adalah pemimpin daulah atau orang yang menangani urusan kaum muslimin lalu berbuat adil”. Dikuatkan sebuah riwayat dari Imam Muslim yang artinya ” Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil berada diaatas minbar-minbar dari cahaya yang berada di sisi kanan Ar Rohman, Mereka adalah orang yang berbuat adil dalam mengambil keputusan dan adil kepada keluarga dan orang yang berada dalam tanggunganya”. Dan adil itu adalah adalah mengikuti perintah Alloh dan menempatkan sesuatu sesuai pada tempatnya.

Seorang Imam atau pemimpin negara memiliki tugas yang sangat berat karena diantara fitnah syahwat yang berbahaya adalah fitnah wanita, harta dan kedudukan. Sedangkan induk dari ketiganya adalah yang terakhir, jika bisa .mendapatkanya berarti untuk mendapatkan selainya menjadi lebih mudah.Sebuah kedudukan apalagi sebagai pemimpin negara ibarat kunci bagi para pengejar dunia untuk mendapatkan segalanya, karena denganya seluruh pintu keduniaan akan terbuka baginya.Ia akan dengan mudah merengkuh semua yang diingini nafsunya.Inilah jerat syaitan yang telah disiapkan bagi seorang pemimpin. Tidak sedikit orang-orang yang diuji dengan fitnah yang satu ini tidak sabar. Sehingga tidak bisa berbuat adil dan banyak melakukan kedzoliman. Karena memang disinilah bermuara berbagai macam fitnah.

Seorang pemimpin harus mampu berjalan lurus dengan mengabaikan kepentingan-kepentingan syahwati yang ada pada dirinya, berupa keinginan untuk menumpuk harta, takut kehilangan, takut dicemooh, atau kekhawatirannya akan kelangsungan jabatannya.Selain itu Ia juga harus memiliki ilmu dien yang cukup agar tidak tersesat, memiliki kecakapan dalam memimpin agar tidak mudah tertipu oleh tipu daya musuh Alloh serta banyak bermusyawarah dengan orang-orang yang sholih agar bisa mengambil keputusan dengan adil.

Dus, menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah , pula jabatan bukanlah kemuliaan tapi justru amanat berat yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya. Maka sudah sepantasnyalah jika Alloh memberikan balasan yang besar kepada siapa saja yang berbuat adil dalam memimpin. Juga, seorang pemimpin hendaknya selalu bercermin pada salafus sholih dan beruswah pada mereka .
Dalam menuntut haknya, ia bisa mencontoh Umar bin Khottob yang selama beberapa waktu di masa jabatanya beliau tidak mengambil sedikitpun dari harta Baitul Mal, hingga kemiskinan menimpanya. Kemudian beliau bermusyawarah dengan para sahabat dan mengutarakan apa yang dialaminya serta berkata,”Aku telah menyibukkan diriku dengan urusan ini, lalu apakah yang pantas aku ambil darinya ?”.Ali bin Abi Tholib Rodhiyallohuanhu berkata ,”Makan pagi dan malam”. Maka baru pada saat itu beliau mau mengambil haknya. Atau dalam bermu’amalah dengan rakyat , Amirul Mukminin Umar juga telah memberikan uswah yang baik yaitu tatkala beliau membantu seorang wanita yang hendak melahirkan dengan memanggil istri beliau, membuatkan makan untuknya dan memberikan sejumlah uang kepadanya. Dan masih banyak lagi contoh lain yang bisa didapatkan dalam buku-buku tarikh atau yang lainya.

2. Pemuda yang tumbuh dalam ketataan kepada Alloh.

Masa muda adalah masa yang penuh gejolak. Masa dimana berbagai macam keinginan jiwa sedang menggelora. Berbagai macam godaan berat selalu menghantam dari berbagai arah.Sehingga kemungkinan untuk melakukan hal-hal negatif sangat besar. Sehingga kita bisa melihat berapa banyak pemuda yang menyia-nyiakan masa mudanya hanya untuk memenuhi keinginan-keinginan syahwati.
Tapi sesungguhnya masa muda ibarat pedang bermata dua, jika digunakan sebaik-baiknya maka ia akan membuahkan hasil yang sangat berharga. Sebaliknya jika disia-siakan maka kehancuranlah yang akan menimpa. Maka beruntunglah para pemuda yang dengan rohmat Alloh bisa menggunakan masa mudanya untuk hal-hal yang bermanfaat.Dan Alloh menjanjikan balasan yang besar baginya.
Dalam sebuah syair dikatakan :
حياة الفتى والله بالعلم والتقى
إن لم يكونا لا اعتبار لذاته
Demi Alloh,
Kehidupan seorang pemuda adalah dengan (mencari)ilmu dan taqwa
Jika keduanya tidak ada,maka tidak diakui keberadaan dirinya
Didalam Al qur’an telah banyak diceritakan tenang kisah para pemuda yang selalu hidup dalam ketaqwaan, perjuangan dan keutamaan. Misalnya saja kisah Ashabul Kahfi dalam surat Al Kahfi yang kesemuanya adalah pemuda yang lari menghindari kaumnya yang musyrik untuk menyelamatkan aqidah mereka.Alloh berfirman yang artinya:
“Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Robbnya dan kami tambahkan petunjuk pada mereka” (QS.Al Kahfi :13)

Imam Ath thobari mengatakan bahwa Fityah disitu adalah para pemuda yang lari kegua untuk menghindari kejaran kaum musyrikin sebagaimana diceritakan pada ayat sebelumnya.
Merekalah para pemuda yang memiliki semangat baja dalam membela agama dan aqidah yang haq, yang rela meninggalkan segalanya dan berkorban apa saja untuk menjaga Dienulloh.
Atau kita bisa mencontoh keberanian seorang pemuda bernama Ibrohim Alaihissalam, yang dengan penuh keberanian menentang keyakinan kaumnya para penyembah berhala yang juga menjadi keyakinan ayahnya sendiri.Bahkan pada suatu hari, tatkala orang-orang sedang pergi berburu,Ia hancurkan seluruh patung sesembahan yang ada hingga tak tersisa satupun kecuali patung yang paling besar,dengan harapan agar kaumnya mau berpikir bahwa patung-patung itu sama sekali tidak bisa meberi manfaat dan madhorot. Maka tatkala kaumnya dan melihat apa yang terjadi, mereka bertanya – Tanya, “Siapakah yang melakukan ini ?” kemudian sebagian kauma menjawab sebagaimana dalam ayat:

Mereka berkata,” Kami dengar ada pemuda yang mencela berhala-behala ini yang bernama Ibrohim”( QS.AlAnbiya’.60)

Keberanian seperti ini tidak akan dimiliki oleh para pemuda yang selalunya hanya berpikir tentang kesenangan duniawi yang melenakan. Tapi ia hanya akan tumbuh pada jiwa pemuda yang selalu menjadikan Alloh sebagai tujuanya.

3. Orang yang hatinya selalu terpaut pada Masjid.

Golongan ketiga ini adalah orang yang hatinya dekat dengan masjid meskipun tubuhnya berada jauh darinya.Ini adalah gambaran hati orang beriman.Orang Mu’min itu ibarat ikan dan masjid adalah air,seberapa besar ketergantungan ikan terhadap air maka sebesar itulah ketergantungan orang beriman terhadap masjid. Akan tetapi bagi orang munafik , masjid itu ibarat sangkar dan ia sebagai burung didalamnya.Secara dhohir ia berada dimasjid tetapi batinya selalu meronta agar segera keluar darinya.Demikian permisalan Sulaiman dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi juz 7 hal96.
Mu’min dari golongan ini adalah mereka yang hatinya selalu rindu kepada masjid .Karena memang disanalah tempat ia bermunajat kepada Alloh dan melakukan ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah.

4.Dua orang yang saling mencintai karena Alloh Ta’ala.

Mencintai sesama muslim adalah sifat yang harus ada pada setiap muslim.Cinta antar sesama mu’min yang berlandaskan Dien, yaitu cinta karena Alloh dan bukan karena harta, rupa atau hutang budi. Orang-orang mu’min yang saling mencintai karena Alloh, bertemu karenaNya dan berpisah juga KarenaNya maka ia akan mendapat lindungan pada Hari Kiamat.
Qoul ulama
5.Orang yang berdzikir kepada Alloh kemudian meneteskan air mata karena takut pada Alloh.

Berkhulwah atau menyendiri kemudian bermuhasabah atas apa yang telah dilakukan menjadi sesuatu yang sudah semestinya dilakukan seorang muslim untuk mengintrospeksi dirinya.Kemudian secara jujur mengakui bahwa dirinya telah banyak berkhianat, ingkar dan lalai. Sehingga seakan akan dirinyalah orang yang paling bedosa kepada Robb Semesta Alam.Kemudian meneteslah airmatanya, sebagai implementasi dari rasa bersalah dan takut akan dosa-dosa yang telah diperbuat.
Umar berkata: “Hisablah dirimu sebelum dihisab pada hari kiamat nanti dan berbekallah menghadapi hari diperlihatkan seluruh amal,bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan manakala didunia sealalu bemuhasabah”.
Hasan Al Bashri berkata :” Sesungguhnya sorang hamba selalu berada dalam kebaikan selagi dia selalu memperhatikan muhasbah”.
Maka hendaknya sorang muslim selalu menasehati dirinya agar selalu berada pada kebaikan dan menjadi orang yang mendapat naungan dariNya.

6. Seorang laki-laki yang diajak perempuan untuk berzina lalu dia menolak dengan mengatakan “aku takut kepada Alloh”
Dalam sebuah hadits Rosululloh bersabda :

ماتركت من بعد فتنة أضر للرجال من النســـاء (رواه البخاري .باب النكاح.ص.170)

Artinya “Tidak ada fitnah yang lebih besar sepeninggalku naqnti bagi seorang laki-laki selain wanita” ( HR.Bukhori)
Bagi seorang laki-laki godaan dunia berupa wanita adalah godaan yang paling berat dan paling mudah menjangkit dibanding yang lainnya.Oleh itu hadits diatas memberi peringatan bagi para laki-laki mu’min untuk berhati-hati dengan fitnah yang satu ini.Karena syetan tidak akan henti-hentinya menggodanya lewat pintu yang satu ini.
Sa’id bin Al Musayyab berkata :
ما يئس الشيطان من شيئ إلا أتاه من قبل النســـاء
“Setiap kali syetan berputus asa menghadapi manusia, ia pasti menggodanya lewat wanita”.
Tak bisa dibayangkan betapa hebat perang hati yang berkecamuk, manakala tak ada halangan apapun bagi seorang lelaki untuk menjamah wanita cantik yang berada didekatnya, bahkan permintaan datang dari si wanita.Subhanalloh orang yang mampu menolak permintaan itu dengan halus maupun kasar hanya karena takut kepada Alloh, maka ialah orang yang dijanjikan Alloh mendapat naunganNya pada hari dimana tidak ada naungan selain dariNya.
Kita bisa mengambil tauladan yang baik dari kisah kesabaran Nabi Yusuf menghadapi godaan Zulaikha sang istri raja.Yang pada saat itu pun sebenarnya beliau juga berhasrat untuk menuruti keinginannya jika saja beliau tidak melihat tanda kebesaran Robbnya.
Disebutkan dalam ayat:

ولقد همت به وهم بها لولا أن رأى برهان ربه (يوسف.13)

Sungguh wanita itu telah berhasrat untuk melakukannya, dan ia pun ( Yusuf) telah berhasrat padanya kalau saja ia tidak melihat tanda dari RobNya.
Akan tetapi iman yang kokoh mengalahkan keinginannya lalu Alloh palingkan dirnya dari perbuatan keji.

7. Orang yang berinfaq dan menyembunyikan infaqnya.

Golongan yang ketujuh ini adalah mereka yang dalam beramal selalu berusah a menjaga keikhlasan ketika berinfaq seakan-akan tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dilakukan tangan kanan. Ikhfa’ dalam melakukakn beberapa amalan memang dianjurkan. Karena amalan yang nampak rawan tersusupi riya’ atau sum’ah sehingga dengan menyembunyikannya dari pandangan manusia diharapkan kemungkinan riya’ menyusup dalam hati menjadi terkurangi.
Sekecil apapun amalan jika dilandasi keihklasan akan sangat bernilai dihadapan Alloh Ta’ala.
Itulah tujuh golongan yang akan Alloh muliakan pada hari Kiamat dengan naungan ArsyNya.Penyebutan golongan ini tidaklah bermakna bahwa hanya ketujuh golongan inilah yang akan mendapat naunganNya sedang yang lainnya tidak, akan tetapi penyebutan ini hanyalah sebagian dari sifat-sifat mulia dan masih banyak lagi selainya yang juga memiliki fadhilah yang sama.
Akhirnya semoga kita digolongkan Alloh termasuk orang – orang yang mendapat Hidayah dan Rohmat.Amien.

Maroji’:
1. Al Qur’an dan terjemahannya.Depag RI.
2. Tafsirul Quranil Adhim.Ibnu Katsier.Maktabah Al Ashriyah 1420 H.
3. Shohihul Bukhori.
4. Tuhfatul Ahwadzi Syarh Jami’ut Tirmidzi.Muhammad Abdurrohman bin Abdurrohim Al Mabar Kafuri.Darul Fikr 1415H.
5. Panduan Akhlaq Salaf.
6. Tazkiyatun Nafsi.Dr.Ahmad Faried.Pustaka Arofah
7. Kumpulan Mutiara Hikmah Ulama Salaf.Abdul Latief al Imami.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 24, 2012 in ISLAMIYAH

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: